BERITA
SARASEHAN GURU DAN DOSEN KATOLIK DEKANAT 2 JAK-BAR: KREATIFITAS, INOVATIF, DAN KOMUNIKATIF DALAM MENDIDIK DI ERA DIGITAL
03/Aug/2024

Seksi Pendidikan Paroki Tomang hari Sabtu, 3 Agustus 2024, pk. 08:00-13:00 WIB di Auditorium Paroki Tomang menyelenggarakan acara Sarasehan Guru dan Dosen Katolik se-Dekanat 2 Jakarta Barat. Tema yang diusung adalah "Kreatifitas, Inovatif dan Komunikatif Dalam Mendidik di Era Digital.
Acara ini dihadiri oleh Romo Erik, O.Carm selaku pendamping Seksi Pendidikan Paroki Tomang dan para guru, dosen Katolik di seluruh paroki serta sekolah-sekolah Katolik wilayah Dekanat 2 Jakarta Barat. Narasumber acara ini adalah Romo Hermanus Sigit, SVD dan James Gwee (motivator) sedangkan moderatornya adalah Bpk. Donny Kosoema A.M.ed. Acara diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Suster Mathea, PIJ. Acara ini resmi dibuka dengan kata sambutan dari Romo Charles mewakili MPK KAJ. Romo Charles menyampaikan bahwa pendidikan era jaman sekarang sudah mengalami perubahan drastis. Kita sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan pola pembinaan sesuai dengan perkembangan jaman maka perlu kreatifitas, inovatif dan komunikatif serta beradaptasi dengan kemajuan dunia digital. Oleh karena itu acara ini sangat bermanfaat bagi kita untuk mengupgrade pola pendidikan kita bagi anak-anak jaman sekarang yang serba lekat dengan digital.

Doa Pembukaan (Suster Mathea, PIJ)

Romo Charles (MPK KAJ)

Bapak Donny Koesoema, M.ed bersama Romo Hermanus Sigit, SVD

Romo Hermanus Sigit, SVD memaparkan materi.

Romo Erick bersama para narasumber
Acara ini dibagi menjadi 2 sesi, sesi pertama diisi oleh Romo Hermanus Sigit, SVD dan sesi kedua diisi oleh Bpk. James Gwee motivator pendidikan. Pada sesi pertama, Romo Hermanus Sigit, SVD menjelaskan dalam mendidik di era digital ini tidak hanya berfokus pada intelegensi saja, namun perlu mendidik membentuk kepribadian, menanamkan nilai-nilai dan keterampilan sosial. Pendidik yang profesional memiliki tugas mendidik, membimbing, melatih, menilai serta mengevaluasi peserta didik. Pendidik juga perlu kreatif dan inovatif memanfaatkan dunia digital sebagai sarana pengajaran kepada para peserta digital. Perkembangan dunia digital semakin membantu kita untuk membuat pola-pola pengajaran yang kreatif dan inovatif sehingga menjadi menarik dan tidak membosankan bagi peserta didik. Menurut Romo Hermanus, dalam hal komunikatif harus melakukan 3S (Senyum, Sapa, Salam) sebagai langkah awal komunikasi. Pendidik harus mengajar dengan hati, artinya komunikasi bukan soal alat yang canggih melainkan soal hati (tanpa hati hanyalah sebatas peran). Mendidik adalah komunikasi diri pemberian diri yang berlandaskan ketulusan. Pendidik dalam mendengarkan perlu membuka hati dan memiliki rasa simpati.

Bpk. James Gwee memaparkan materi.

Bpk. James Gwee memaparkan materi.
Pada sesi kedua, Bapak James Gwee membawakan materi ini lebih banyak interaksi dengan audiens. Bapak James Gwee menyampaikan bahwa pola pendidikan dulu dengan sekarang sudah jauh berbeda. Anak-anak didik kita sekarang ini sudah didominasi oleh generasi Z dan Alpha dan dibarengi dengan kemajuan pesat dunia teknologi digital. Semua anak jaman sekarang tidak bisa lepas dengan dunia digital, misalnya gadget dan internet. Kita sebagai pendidik yang umumnya generasi babyboomers dan Milenial harus keluar dari zona nyaman dan beradaptasi dengan kemajuan dunia digital serta mengembangkan pola-pola pendidikan yang kreatif dan inovatif. Sebagai contoh, jaman dulu kita belajar harus dalam kelas, dan kerjapun juga harus masuk kantor. Apa yang terjadi jaman sekarang? jaman sekarang belajar bisa dilakukan dimanapun diluar kelas bahkan kerjapun tidak harus masuk kantor. Semua pekerjaan bisa dikerjakan diluar kantor. Mari kita ubah pola pembinaan dan berani keluar dari zona nyaman. Kita kuasai dunia digital dan jadikan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, menarik dan menyenangkan bagi anak-anak jaman sekarang.


Ibu Mikaela Eunike (batik biru) SDK Sang Timur memperoleh door prize kompor gas.

Bpk. Frem (batik biru) SDK Sang Timur memperoleh door prize Rice Bucket


Ibu Mikaela Eunike (batik biru) SDK Sang Timur memperoleh door prize kompor gas.

Bpk. Frem (batik biru) SDK Sang Timur memperoleh door prize Rice Bucket
Ilmu yang diberikan melalui acara ini sangat bermanfaat dan kontekstual dengan kondisi pendidikan jaman ini. Para guru dan dosen memperoleh penyegaran dan wawasan yang baru. Selain itu acara ini juga menarik karena diselingi dengan door prize yang menarik dan berguna bagi kebutuhan hidup. Beberapa guru dari Sang Timur juga turut beruntung memperoleh door prize. Semoga acara ini selalu dapat terlaksana secara rutin agar para guru dan dosen semakin banyak memperoleh wawasan yang terkait dengan pendidikan.